Jumat, 13 Juli 2012


Diambil dari tulisan Tajuddin Noor Ganie dalam Antologi Biografi Sastrawan Kalsel (Penerbit Rumah Pustaka Karya Sastra, 2010). Tertulis di hlm 92:

...... Analisis Ilmiah atas puisi-puisinya telah dilakukan oleh M. Haryandhi Muammar S dalam skripsi berjudul Analisis Struktural Semiotik dalam Kumpulan Puisi Pistol Air Karya M. Nahdiansyah Abdi (STKIP PGRI Banjarmasin, 2009).

Yap, trims, bro...

CSH Award 2009


Beberapa waktu lalu, buku saya, Pewaris Tunggal Istana Pasir (2008), saya ikutkan dalam Cecep Syamsul Hari Award (CSH Award) tahun 2009, dan dapatlah masuk ke Long-list di sana. Berikut daftar long-list nya....

Akar Berpilin. Gus tf. Gramedia, Jakarta, Juni 2009.
Bumi Gora. M. Hasan Sanjuri. Sanggar Sastra Al-Amien, Sumenep, Desember 2009.
Cinta yang Marah. M. Aan Mansyur. Bejana, Bandung, April 2009.
Kampung Ular. Rahmat Heldy HS. Lumbung Banten, Serang, Januari 2009.
Lagu Cinta Para Pendosa. Zaim Rofiqi. Alvabet, Tangerang, Mei 2009.
Lilin-lilin Melawan Angin. Slamet Riyadi Sabrawi. LP3Y, Yogyakarta, September 2009.
Memento. Arif Bagus Prasetyo. Arti Foundation, Denpasar, April 2009.
Partitur, Sketsa, Potret dan Prosa. Wendoko. Banana, Jakarta, Juni 2009.
Peneguk Sunyi. Soni Farid Maulana. Kiblat, Bandung, April 2009.
Penyair Bodoh. Dea Anugrah. Greentea, Jakarta, Desember 2009.
Pewaris Tunggal Istana Pasir. M. Nahdiansyah Abdi. Tahura Media, Banjarmasin, Desember 2009.
Picnic. Karno Kartadibrata. Kiblat, Bandung, Januari 2009.
Puan Kecubung. Jimmy Maruli Alfian. Kata Kita, Depok, Februari 2009.
Surat Terakhir. Kamil Ibnu Masduki. FBSI, Sumenep, Agustus 2009.
Telimpuh. Hasan Aspahani. Koekoesan, Depok, Juni 2009.

link: http://cecepsyamsulhari.webs.com/cshpoetryaward.htm

Jumat, 29 Juni 2012

ANTARA PENJARA DAN PEMBEBASAN BUDAYA DAN JAWABAN KULTURAL DUA PENYAIR BANJAR


 (Merupakan kata pengantar dalam buku Jejak-jejak Angin, jadi sekaligus membahas puisi saya dan Hajriansyah. Hajri dibahas pada kesempatan pertama)

oleh: Faruk HT

 
10 agustus 2005

Jika meninggal seorang besar
Di sampingmu, maka
Menangislah alam raya
....
Aku tak mampu menyebutkannya
Sebuah senyum
Dan badan yang tegap,
Hanya sebuah foto
Dengan orang-orang yang
Berebut untuk mendekat
Padanya
Ada juga anak kecil
Yang berpangku padamu
Aku tak mengenalmu
secara dekat
tapi setiap kematian
orang besar selalu
membuatku kehilangan
serasa kudengar lagu-
lagu indah
menyapa kedalaman
jiwaku
Shalawat bagi Nabimu
Shalawat bagimu

Membaca puisi di atas saya seperti mendengar kembali gaung suara Chairil Anwar dalam Catetan Tahun 1946: “Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu/ Semuanya harus dicatet, semuanya dapat tempat”. Tapi, betapa berbedanya puisi tersebut dibandingkan dengan puisi Chairil. Pertama, Chairil melihat kelahiran sebagai harapan, kematian sebagai bencana yang membuat putus asa, dan harapan dan keputusasaan itu harus dicatat secara bersamaan sehingga yang satu menihilkan yang lain. Hajriansyah sebenarnya juga memahami kematian seorang besar sebagai “membuatku kehilangan”. Hanya saja, ia menempatkannya ke dalam “kebesaran” yang lain, yang seakan terus hidup, sehingga rasa kehilangan menjadi tidak berarti, keputusaan dilenyapkan oleh harapan. Yang tidak kalah menariknya adalah membayangkan baris-baris puisi Chairil Anwar yang bisa dikatakan total sekuler dan bahkan nihilis tersebut ditempatkan dalam konteks yang dapat dianggap bertentangan sama sekali, yaitu idiom-idiom keagamaan Islam yang sangat eksplisit, sebuah primordialisme yang sempit, tidak sekedar religiusitas yang abstrak, universal, yang meliputi semua agama: “Shalawat bagi Nabimu/Shalawat bagimu”.

Wawancara tentang Pejalan Tidur


Asal mula cerita: Akun media sosial memudahkan banyak orang dalam berkomunikasi. Suatu kesempatan, saya berkenalan dengan seseorang yang bernama Tita. Diceritakan ia sedang kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unnesa), ia sedang menyelesaikan tugas dari dosennya, dan tertarik dengan sebuah buku yang dibelinya di TB. Toga Mas. Buku itu berjudul Buku Harian Pejalan Tidur. Lalu ia pun mengirim 4 pertanyaan via sms dan saya membalasnya dengan mengirim e-mail ke isnaini.titawati@yahoo.co.id.

 Maka inilah petikan wawancaranya:



Tulisan pada Facebook


Radius Ardanias Hadariah

Menulis pada 19 Juni 2012 lewat akun media sosial Facebook di dinding saya: "Membaca sajak2 M Nahdiansyah Abdi dalam kumpulan puisi Buku Harian Pejalan Tidur, pada bacaan awal, saya merasa dia jatuh cinta pada makna, dan memakai kata untuk menghantarkannya. Jika tidak tergesa berkomentar, maka, dia bermain dengan makna, bukan dengan kata, meski tetap ada diksi dan tifografi yang mungkin kromosom sajak-sajaknya. Saya, terpaksa mengakui, bahwa baru kali ini membaca sajaknya > dan sekaligus melimpah 61 sajak. Yang sangat jelas bagi saya, Nahdi, adalah penyair yang harus terus menulis sajak, kerna jika tidak, ada ruang kosong, yang tidak pernah terisi dalam kepenyairan kalsel. Terimakasih kiriman Kumpulan Puisi yang dilepas sunyi, tanpa sekapur sirih dari penerbit, juga sepatah kata dari penyair, tanpa biografi penulis. Bersama angin kencang, dan butiran hujan sore, saya terima."


SMS siapa ini, Bang?


Pada tanggal 7 Maret 2012 pukul 4:41:11 pm waktu handphone saya, saya menerima sms panjang dari Korrie Layun Rampan, pendiri dan pengelola Pusat Dokumentasi Sastra Korrie Layun Rampan dan Rumah Sastra Korrie Layun Rampan. Beberapa waktu sebelumnya, saya mengirim buku saya ke beliau dan berturut-turut hadirlah komen-komen berikut:







Serang Pemerintah Absurd dengan Pistol Air (Radar Banjarmasin, 19 April 2009)


Oleh Risnani 

(ininih yang bikin gw dapet nilai A di kritik sastra, wek wek wek)

Pertama kali menjumpai buku antologi puisi “Pistol Air” (PA) karya M. Nahdiansyah Abdi terbitan Tahura Media tahun 2008 ini, saya langsung terpana oleh judul dan covernya yang sangat unik. Pemandangan “Rumah Sakit Jiwa” yang terpampang pada latar cukup menggelitik, hal ini erat kaitannya dengan judul buku “parodi tentang orang yang ingin bunuh diri dengan pistol air”. Si penulis yang ternyata merupakan lulusan Fakultas Psikologi UGM ini,  mengemukakan pada bagian pendahuluan buku ini bahwa air yang menyembur dari pistol tersebut untuk menyimbolkan kegembiraan, kesegaran, pertumbuhan, inspirasi, harapan. Sungguh suatu keanehan yang membangun, toh manusia hidup di dunia memiliki keabnormalannya masing-masing.
Pada setiap akhir halaman banyak dihiasi oleh kehadiran kutipan-kutipan yang sifatnya religius. Dari pengantar yang diberikan oleh sang penulis, hal tersebut diadakan untuk menunjukkan kearifan lokal. Dan kearifan lokal yang dimaksud adalah Islam, karena persentase terbanyak masyarakat Banjarmasin beragama Islam. Sebagaimana awal penciptaan sastra yang juga bersifat religius (Mangunwijaya, 1988:11) dan menjadi media ekspresi pengalaman estetik dan mistik manusia dalam berhadapan dengan kekuatan ‘alam’ (natural) dan ilahi (supernatural).

Pistol Air: Sastra, Sketsa, dan Hikmah (Membaca Puisi karya M. Nahdiansyah Abdi)



(sumber: Dimuat dalam buku Maitihi Sastra Kalimantan Selatan 2008-2011, hal. 53-58, juga pernah dimuat di Koran Radar Banjarmasin)

Oleh: Sainul Hermawan

Pistol Air: Sebuku Tiga Seni
Cover buku Maitihi Sastra Kalimantan Selatan 2008-2011
Mungkin Pistol Air (PA) adalah salah satu kumpulan puisi yang menolak gagasan bahwa semestinya sebuah buku kumpulan puisi disajikan dengan kesunyian yang antara lain dengan menghadirkan ruang lapang bagi setiap sajak untuk menempati satu halaman tenang di setiap halaman buku: tak perlu ada sesuatu yang lain, yang ada hanya puisi.
PA tak demikian. Buku puisi ini diawali dan diakhiri cerita penulisnya tentang latar belakang dan latar depan dirinya dan puisi dan lain-lain. Tak semua cerita terkait langsung dengan puisi dalam buku ini (tapi mungkin menjadi inspirasi). Keduanya menarik dan tampak menolak universalisme. Dian tampak ingin menghadirkan diri dan pengalamannya: untuk berbagi. Dian berbagi ruang dengan karya seni lain: sketsa dan kata-kata mutiara.
Ada 18 sketsa karya Hajriansyah yang menghiasi halaman-halaman tertentu buku ini. Sebagian besar sketsa-sketsa itu tidak hadir sebagai ilustrasi puisi di buku ini. Sketsa itu kebanyakan hadir di sana sebagai dirinya sendiri. Akan tetapi, jika mau dipaksakan, kesan adanya keterkaitan sketsa dengan sajak tertentu dapat ditemukan, misalnya sketsa di bawah sajak “Rasa Harmoni” yang diberi sketsa tentang suasana angkringan yang kaprah di sisi-sisi jalan Jogja. 

Sosok Ibu di Mata M. Nahdiansyah Abdi




Oleh : Noor Sa’adah

 

Puisi selain sebagai refleksi bisa juga disebut sebagai replika kehidupan namun dalam bentuk lain, tulisan. Kebanyakan puisi berdiri di atas fondasi realitas yang kemudian di-metafora-kan dalam bentuk-bentuk lain. Bentuk-bentuk yang kadang-kadang keluar dari batas-batas realitas itu sendiri. Bisa dibilang ini adalah hak veto seorang penyair untuk mengaduk-aduk imajinasi dengan kenyataan menjadi sebuah adonan kental yang akhirnya dinikmati oleh para pembacanya. Meski akhirnya (seperti sekarang ini) akan terus dikritik untuk melihat ketidaklogisannya, penyimpangan bait demi baitnya, puisi akan terus mengalir terlahir dengan bebas, sebebas sang pengarang berpikir. Apa yang tercipta tentulah tegak lurus dengan apa yang terlintas dalam hati dan otak mereka masing-masing saat itu karena memang pikiran dan perasaan mereka milik mereka sendiri, dan Tuhan tentunya.

Akan tetapi ada hal yang tak bisa dielakkan ketika seseorang membaca sebuah puisi, yakni akan munculnya pemikiran-pemikiran baru, yang secara sengaja atau tidak, menyikapi puisi tersebut. Wajar jika kekaguman dan kebingungan berjalan beriringan  dan berupaya saling mengalahkan satu sama lain saat itu juga. Hal ini lah yang membuat saya menganggap sajak M. Nahdiansyah Abdi , “Tak Habis Ibu”, dalam Antologi Puisi Pistol Air (hlm. 73)  menarik minat saya untuk berpikir lebih dalam tentang figur wanita yang selalu menjadi simbol keagungan, sosok seorang ibu. Membuat saya kagum, sekaligus bingung di sisi yang lain.

Bunuh Diri dengan Pistol Air | Antologi Puisi


(sumber http://hariesaja.wordpress.com/2008/07/28/bunuh-diri-dengan-pistol-air-antologi-puisi/)

oleh Harie Insani Putra
28 Juli, 2008
Demikianlah. Puisi-puisi masih ditulis. Buku-buku tetap dicetak. Dan kali ini, buku yang sampai ke tangan saya adalah Pistol Air, dengan nama panjang, Antologi puisi parodi tentang orang yang ingin bunuh diri dengan pistol air. Buku ini baru saja selesai dicetak, ibarat gorengan pisang, masih hangat. Sebagai ungkapan terimakasih, khususnya penerbit Tahura Media, yang tidak pelit mengirimkan buku-buku terbitannya, semoga saja, catatan ini bisa mewakilkan rasa terimakasih dan sekaligus undangan kepada penerbit atau penulis lain, yang bukunya juga ingin saya catatkan di blog ini. (Syaratnya, kirimi saya buku).

Mari kita mulai…
Sebenarnya, hanya orang gila yang merencanakan bunuh diri dengan pistol air. Kenapa tidak pistol sungguhan? Ya, ampun. Saya pegang pistol saja belum pernah, bagaimana rasanya kalau sungguhan kena tembak, ya? (bercanda), tapi judul buku ini memang aneh. Apalagi di bagian sampul, ilustrasinya sungguh-sungguh menggambarkan orang ingin bunuh diri, dan di belakangnya, ada gambar rumah sakit jiwa. Apa kata saya tadi, hanya orang gila yang merencanakan bunuh diri dengan pistol air. Benarkah ada kegilaan semacam itu di dalam puisi M. Nahdiasyah Abdi? Buku kumpulan puisi ini lumayan tipis, 134 halaman dengan ukuran 13 x 19 centimeter dengan nomor ISBN:979175622-8. Meski tergolong tipis, buku ini padat isinya. Mari kita buktikan!

Konkretisasi Makna “Ranjang Kematian”


(Dimuat di koran Media Kalimantan, 08 Mei 2010)
oleh M. Rizali Ramadhan

            Puisi adalah salah satu jenis sastra. Memahamai makna puisi tidaklah mudah, lebih-ebih pada waktu sekarang puisi makin kompleks dan “aneh”. Puisi itu suatu artefak yang baru mempunyai makna bila diberi makna oleh pembaca. Akan tetapi pemberian makna itu tidak boleh semau-maunya, melainkan berdasarkan semiotik karena karya sastra merupakan sistem tanda. Pemaknaan ini istilah aslinya adalah konkretisasi. “Konkretisasi” ini istilah yang dikemukakan oleh Felix Vodicka berasal dari Roman Ingarden, berarti pengkonkretan makna karya sastra atas dasar pembacaan dengan tujuan estetik.

Puisi M. Nahdiansyah Abdi sebagai “Pelepas Dahaga”


(Dimuat di Radar Banjarmasin, Minggu, 29 Juli 2007)

 Oleh Fitri Hayati*


Puisi merupakan salah satu karya sastra yang mampu menyuguhkan segelas air sebagai penyejuk di tengah dahaga. Puisi yang baik adalah puisi yang mampu memberikan efek atau dampak kecanduan bagi pembacanya. Namun bukan hanya nilai estetik saja yang ditekankan pada efek “kecanduan” di sini, melainkan karena puisi itu mampu memberikan pencerahan akan nilai-nilai yang mampu membawa pembacanya kepada kebaikan. Puisi-puisi karya M. Nahdianyah Abdi pada bukunya yang bertajuk Jejak-jejak Angin, yang diterbitkan oleh Olongia Yogyakarta, yang terbit pada bulan April tahun 2007, merupakan salah satu kumpulan karya-karya yang kemungkinan besar mempu memberikan efek “kecanduan” tersebut kepada pembacanya. Karena M. Nahdiansyah Abdi mampu menawarkan semacam alur yang sepertinya mampu menyeret masuk pembacanya ke dalam dunia yang berbeda melalui diksi yang digunakannya, meski tema yang dihadirkan kurang begitu berbekas di dalam kehidupan para pembaca.